Seorang ibu setengah baya dengan tergopoh-gopoh memasuki toko kami. Beberapa saat kemudian dia bertanya kepada saya apakah di toko kami menjual barang titipan suaminya sambil dia menunjukkan barang contoh yang dia bawa dari rumah. Setelah saya amati ternyata stok barang tersebut di toko kami kebetulan habis.
Dengan setengah putus asa si ibu menanyakan kepada saya dimana lagi toko yang menjual barang tersebut. Saya menyebutkan kepada ibu tersebut beberapa toko yang kemungkinan menjual barang yang dimaksud. Di luar dugaan ternyata si ibu tersebut berkata bahwa dia sudah berkeliling dan masuk dari satu toko ke toko yang lain untuk mendapatkan barang tersebut tetapi dia tetap tidak menemukan barang tersebut. Toko kami merupakan toko terakhir yang dia masuki dengan harapan penuh bahwa dia akan mendapatkan barang titipan suaminya. Si ibu sampai berkata berapapun harga barang tersebut dia mau membayarnya karena takut akan kena marah suaminya jika sesampainya di rumah dia tidak mendapatkan barang titipan suaminya itu.Saya jadi merasa iba dengan ibu tersebut. Dia sudah terlihat kelelahan, juga raut mukanya tampak cemas dan kebingungan. Akhirnya sayapun menyanggupi untuk mencarikan barang tersebut dan meminta si ibu untuk menunggu sekitar satu jam. Si ibupun menerima tawaran saya dengan senang hati. Akhirnya setelah saya menelepon beberapa toko, barang tersebut berhasil saya dapatkan. Si ibu terlihat sangat senang saat mendapatkan barang titipan suaminya. Dengan wajah berseri dia meninggalkan toko kami.
Sering kali kita sadari ataupun tidak kita berperilaku seperti ibu yang kebingungan tersebut. Berapa banyak dari kita saat menghadapi masalah kita langsung ke tempat yang seharusnya kita tuju, yaitu Tuhan kita? Kita lebih suka mencari bantuan kepada orang lain yang kadang justru tidak membantu kita menyelesaikan masalah tapi justru menambah ruwet masalah yang kita hadapi dengan pendapat-pendapatnya. Atau kita menjadi orang yang mengandalkan “otak” dalam menyelesaikan masalah. Mencoba cara ini dan itu tetapi masalah malah semakin menumpuk dan semakin membuat kita terperosok. Kita membuat Tuhan menjadi “tujuan terakhir” kita untuk mencari pertolongan. Saat kita merasa sudah benar-benar tidak mampu untuk menyelesaikan masalah atau mencari jalan keluar dari persoalanyang kita hadapi barulah kita berpaling kepada-Nya.
Mazmur 124:8 berkata “pertolongan kita adalah dalam nama Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi”. Semua dari kita dapat mengerti dengan jelas maksud dari ayat tersebut. Pertolongan kita bukan dari teman, saudara, kerabat, kenalan, tetangga, atau orang lain yang kita kenal, tetapi Tuhan sendiri. Tuhan kita bukan Tuhan yang tega membiarkan kita berkubang dalam masalah yang kita hadapi. Dia sendiri berjanji “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu,… ” (Mat 7:7). Itu sudah menjadi jaminan pasti untuk kita. Jadi, tidak perlu lagi kita bersusah-susah berpikir tentang masalah kita atau mampir ke satu orang ke orang lain untuk membantu kita dalam menyelesaikan masalah. Serahkan seluruh masalah dan persoalan yang kita hadapi kepada-Nya, dan Dia yang akan menyelesaikan semuanya….










Tidak ada komentar:
Posting Komentar