30 Desember, 2008

INTERNET DAN ANAK TERANG

Tekologi komputer pada awal tahun 1990an. Waktu itu operating systemnya masih memakai MS DOS itupun komputer dilakukan hanya sebatas ketik, mengetik contohnya Wordstar, Lotus, Adobe pagemaker, pada waktu itu yang bisa saya dengar mengenai komputer hanya sebatas mengetik saja beda dengan sekarang, Sekarang tujuhbelas tahun kemudian, apapun dapat saya lakukan di depan komputer. Membaca berita, Alkitab, renungan pagi; mendengar khotbah, music, menonton film; chatting dengan teman, bersosialisasi, membangun komuniti; conference, sekolah, belajar, main game dan masih banyak lagi. Bahkan kalo malas keluar rumah shopping online juga jadi pilihan. “The world is on your fingertips”, begitu istilahnya. Padahal dibanding dengan tech-savvy user, saya masih tergolong kaum yang “gaptek” gagap teknologi.

Saat ini hampir setiap orang terdaftar pada satu atau lebih situs komuniti seperti friendster, myspace, cyworld, facebook, segi3 ( baru khusus buat orang Indonesia, bantu promosi); sekedar jadi anggota mailing list seperti, yahoogroups, googlegroops; atau ngeblog gratis di mutiply, blogspot, blogger, wordpress dan masih banyak lagi (gak tau semua).

Bukan hanya orang dewasa dan kaum muda saja yang gandrung dengan teknologi internet , tapi sampai ke remaja dan anak-anak bahkan bayi pun sudah di expose dengan dunia maya ini. Di Korea 90% pemuda remajanya menjadi anggota situs komuniti Cyworld (sumber: wikipedia). America punya Myspace dan di Belgia ada Cyberspace yang saat ini telah memiliki 12.000 anggota bayi yang baru lahir dan janin yang masih dalam perut (sumber: the Korea Times, 11/14). Jadi jangan heran kalau di situs ini foto profile anggotanya berupa gambar sonogram.

Dengan adanya gaya hidup seperti ini terbentuklah suatu generasi baru yang benar-benar beda dengan generasi sebelumnya. Mereka dikenal karena early exposure terhadap komputer dan internet. Generasi ini disebut Generasi Z, yaitu anak-anak yang lahir sesudah tahun 1996 dari orang tua yang lahir 1965-1985 (Generasi X), ciri khasnya adalah kedekatannya dengan sosialisasi ala dunia maya dan semakin jauh dengan sosialisasi dunia nyata

Di Amerika sudah sangat lumrah jika gereja punya website yang bisa broadcast ibadah minggu dan berbagai fasilitas lainnya. Demikian juga di Korea, rata-rata gereja yang besar memiliki internet dan TV broadcasting. Ada banyak virtual congregation atau jemaat yang enggan ke gereja tapi bisa mau mengikuti ibadah dari rumah masing-masing. Jeleknya, yaitu jemaat yang menjadikan internet gereja seperti belanja di online shopping: suka beli; tidak suka cari yang lain. Semuannya hanya dengan fingertips dan remote control.

Bagi saya, website gereja yang lebih tech-trendy dan tech-savvy bukan sebagai pengganti pekumpulan saudara seiman di rumah Tuhan. Namun, ini sebagai jembatan untuk menjangkau mereka yang tidak terjangkau pada ibadah minggu. Oleh karena itu, jadi orang Kristen jangan ketinggalan, gaptek (seperti saya) atau “butek” buta teknologi (yang ini parah deh), paling nggak bisa familiar dengan internet untuk memetik berbagai manfaat darinya. Kita juga harus memikirkan bagaimana mejangkau Generasi Z atau kalau tidak mereka akan terhilang selamanya di dunia maya tanpa pernah menginjak lantai gereja. Sumber Nancy & Dinar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FEED BURNER

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

BUKU TAMU

Name :
Web URL :
Message :

FEED

Yo yo Boys and Girls mari Dukung Doa dan Dana Untuk Pembelian Tanah Gereja dan Pembangunan. BETHANY PEKALONGAN kami ; Sebab Pelayanan Kasih Yang Berisi Pemberian ini bukan Hanya Memcukupkan Keperluan-Keperluan orang Kudus, Tetapi juga melimpahkan Ucapan Syukur Kepada ALLAH. 2 Kor 9;12